Setelah jiwa Yan Ruyan tertarik sepenuhnya ke dalam Pagoda Qingling, suasana di langit yang sebelumnya penuh tekanan akhirnya mereda. Lynx mengembuskan napas panjang, perlahan menurunkan tangannya. Aura hitam yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya mulai surut, terserap kembali ke dalam dantiannya. Api hitam yang membakar tubuhnya padam dengan sendirinya, dan mata Lynx kembali tenang seperti semula. Energi iblis di tubuhnya yang menggila kini telah tersegel rapat di dalam dirinya.

Tekanan energi perlahan memudar, menyisakan keheningan di antara mereka semua. Angin berhembus pelan membawa debu dan daun-daun kering yang beterbangan.

Lala dan yang lainnya mendekat dengan hati-hati. Tak satu pun dari mereka berani bicara lebih dulu. Wajah Lynx saat marah tadi dan mengeluarkan kekuatan iblis... terlalu mengerikan. Aura membunuh yang ia pancarkan menusuk ke tulang, membuat mereka gemetar meski hanya mengamatinya dari kejauhan.

Dengan langkah perlahan dan suara nyaris tak terdengar, Lala memberanikan diri bertanya, "Lynx... apa yang sebenarnya terjadi?"

Lynx menoleh, sorot matanya tajam namun tidak lagi dikuasai amarah. "Ada roh jahat yang bersembunyi di dalam tubuh Leena... dan dia melukainya dari dalam."

Narendra yang sejak tadi hanya diam langsung melangkah maju. Wajahnya terkejut dan suaranya meninggi. "Roh jahat? Bagaimana bisa? Siapa dia?"

"Aku belum tahu siapa dia sebenarnya," jawab Lynx, matanya menatap kosong ke arah langit yang kini sudah jernih. "Awalnya aku ingin menghancurkan jiwanya saat itu juga... tapi aku berubah pikiran. Aku ingin tahu, apa tujuan sebenarnya roh itu merasuk ke dalam tubuh Leena. Siapa dia, dan apa yang dia rencanakan."

Tak ada satu pun dari mereka yang berani menimpali.

Lynx segera berlutut di samping Leena yang masih tak sadarkan diri. Ia meletakkan dua jarinya di atas titik nadi Leena, lalu menyalurkan sedikit qi untuk membaca keadaannya. Ia menutup mata sejenak, lalu membuka kembali dengan helaan napas lega.

"Napasnya memang lemah... tapi energi kehidupannya sangat berlimpah," ucapnya pelan. "Dia akan selamat."

Lynx segera berdiri dan menatap ke arah timur. Satu gerakan tangan, dan di udara terbentuk sebuah pusaran energi bercahaya ungu keperakan yang menyala lembut

"Aku akan membawa kalian semua kembali ke kota Zhurong. Leena butuh tempat yang lebih aman untuk memulihkan diri."

Tanpa banyak tanya, Jelita mengangguk dan menggandeng Isha yang masih terlihat ketakutan. Arkha, Kael, Lala, dan Narendra mengikuti dari belakang. Masing-masing masih menyimpan banyak pertanyaan, tapi mereka tahu... saat ini bukan waktunya.

Lynx mengangkat tubuh Leena dengan lembut, seolah takut menyakitinya lebih jauh. Tatapannya penuh kehati-hatian, berbeda jauh dengan sosoknya saat menangkap roh Yan Ruyan barusan. Dengan langkah pasti, ia masuk ke dalam portal, membawa Leena di pelukannya. Yang lain segera menyusul, satu per satu menghilang ke dalam pusaran cahaya.

Langit tempat mereka bertarung tadi kini benar-benar sunyi. Tanpa jejak. Tanpa suara. Seolah semua kekacauan tadi hanya ilusi. Namun di balik itu semua, di dalam Pagoda Qingling... roh Yan Ruyan mulai menggeliat berusaha melepaskan diri darir rantai yang mengikatnya. Wajahnya penuh amarah dan kehinaan, matanya memancarkan kebencian tajam.

"Lynx... kau akan menyesal sudah memperlakukanku seperti ini..." bisiknya pelan.

***

Ketika Lynx membuka portal dimensi menuju dunia Lala bersama Jelita dan Isha, di sebuah ruangan markas rahasia yang penuh cahaya merah redup, layar-layar monitor besar memantulkan bayangan tajam ke wajah Komandan Vex. Ruang itu dingin, sunyi, namun dipenuhi aura tekanan yang menyesakkan. Disampingnya, duduk seorang wanita yang duduk dengan tetap tenang seolah tidak peduli dengan tindakan Komandan Vex.

 

"Komandan, satelit menangkap anomali energi di laut dekat kota Hesperis. Para saksi mata yang berada di tempat tersebut juga mempostingnya di berbagai media sosial." kata salah satu prajurit yang melapor.

Komandan Vex segera memeriksa foto-foto dan video yang beredar. Wajahnya menggelap, aura di sekitar ruangan terasa lebih menyesakkan.

"Lynx, kamu kembali lagi? Kamu dengan seenaknya keluar masuk dunia ini." geram komandan Vex. Dia sudah merasa sangat marah ketika mengetahui  bangunan penelitian sekaligus markas rahasia untuk membangun kekuatan di pindahkan oleh Lynx. Hal ini menyebabkan kehebohan sehingga rencana dia untuk menciptakan manusia super dan berbagai penelitian rahasia lain hampir terbongkar dan tercium oleh pihak pemerintah.

Setelah mengetahui posisi bangunan di bawa ke kutub oleh Lynx, komandan Vex memerintahkan anggotanya bergerak cepat untuk memindahkan object penelitian dan berbagai catatan rahasia lalu meninggalkan sebagian penelitian agar tidak di curigai pihak pemerintah saat diperiksa. Komandan Vex merasa beruntung, Zephyron, manusia robot mengalami kerusakan saat melawan Lynx sehingga Zephyron pergi meninggalkan bangunan dan memberikan kesempatan kepada komandan Vex untuk menjalankan rencananya. Dan kini dia harus menyusun ulang laboratorium di markas mereka yang baru.

"Kanaya, apa kamu yakin pemuda itu melemah ketika berdekatan dengan batu Kryton?" tanyanya kepada Kanaya. Dia sudah mendapatkan laporan dari Ratih dan Kanaya mengenai peristiwa yang terjadi saat Lynx berada di markas.

"Bukankah kamu sudah mendengarnya sendiri dari Ratih." Jawab Kanaya dengan nada ketus.

"Komandan, tepati janjimu. Aku tidak membutuhkan jabatan palsu seperti ini. Kamu sudah berjanji membebaskanku." lanjutnya.

Komandan Vex mendekat dan menangkap leher Kanaya hingga terbatuk kesulitan bernapas. Dari mata Kanaya keluar sinar tak kasat mata berusaha mempengaruhi komandan Vex agar bisa melepaskan diri, namun nano partikel yang ditanamkan oleh Komandan Vex di tubuhnya mengeluarkan resonansi secara otomatis menghancurkan efek kekuatan yang dikeluarkannya.  

"Hidupmu ditanganku. Misimu belum selesai, aku masih membutuhkanmu. Tapi jika kamu masih tidak bisa memposisikan dirimu, aku akan mengirimmu ke kematian." Komandan Vex berkata dengan geram, tangannya semakin kencang menjepit leher Kanaya tanpa ada perlawanan.

Namun tiba-tiba seorang prajurit masuk dengan berlari membawa laporan terbaru, sehingga komandan Vex menghempaskan tubuh Kanaya ke dinding dengan keras.

Setelah membaca laporan, Komandan Vex mengamuk.

Segelas logam berat melayang dari atas meja di dekatnya dan menghantam dinding, pecah berkeping-keping. Cairan hitam yang sebelumnya di dalamnya membasahi lantai, namun tak ada satu pun yang berani bergerak.

"Menghilang?!" raung Vex, matanya menyala marah. "Laboratorium di Kutub? Menghilang begitu saja tanpa jejak?!"

Salah satu teknisi dengan tangan gemetar menunjukkan data di layar hologram yang berkedip cepat. "Komandan, satelit kita menangkap rekaman ini... di dekat bangunan terdapat anomali bekas jejak energi yang sama dengan energi yang ada di dalam bangunan saat pemuda itu memasuki markas kita dan energinya sama dengan portal yang muncul di lautan. Jejak energi ini bisa di pastikan portal teleportasi dan portal dimensi."

Gambar-gambar bergerak ditampilkan. Sosok Lynx tampak berdiri dengan tenang di tengah salju, bersama seorang gadis kecil dan dua wanita, salah satunya langsung dikenali Komandan Vex. "Profesor Lala. Ternyata dia sudah sadar." 

Dia langsung menatap Kanaya dengan tatapan curiga,"Bukankah kamu sudah mengunci kesadarannya, bagaimana dia bisa sadar kembali."

Kanaya masih memegang lehernya yang sakit, dengan susah payah dia berusaha menjawab,"Pemuda itu...Lynx. Dia memiliki kemampuan untuk menghancurkan kekuatanku." Dia berusaha berdiri dan melihat gambar di monitor dan mengenali wanita yang pernah di tangkapnya.

"Jelita, dia ikut ketempat ini?" gumamnya pelan, lalu menggertakkan gigi. "Dan anak itu... siapa dia?"

"Kurang ajar... mereka benar-benar berani." Tangan komandan Vex mengepal, matanya menyala dengan amarah yang tertahan.

"Percepat penyelesaian Proyek Ragnarok!" teriaknya, nadanya tajam. "Kita akan hancurkan dunia mereka. Tumpahkan limbah radioaktif dalam jumlah besar hingga tak ada satu pun makhluk hidup yang bisa bertahan. Biarkan mereka mengerti... bahwa datang ke dimensi kita berarti membawa kematian."

Seluruh ruangan hening. Para peneliti dan teknisi saling bertukar pandang, tapi tak ada yang berani membantah.

"Dan Dokter Zhang... bagaimana perkembangan Proyek Manusia Super kita?" tanya Vex sambil melangkah mendekati dinding kaca yang memperlihatkan ruangan laboratorium.

Seorang pria tua berjas putih mengenakan kacamata teknologis berdiri tegak, sorot matanya tajam. Dia memandang Di balik kaca, tampak banyak ahli sedang melakukan penelitian menggunakan berbagai peralatan canggih.

"Komandan," lapornya tenang, "Tahap pertama hampir selesai. Tapi kita membutuhkan subjek hidup untuk menguji pil ini. Kita tidak akan tahu seperti apa hasilnya tanpa mengujinya langsung."

"Bagus."

Komandan Vex lalu mengalihkan pandangannya ke wanita di belakangnya.

"Kanaya," ucap Vex sambil menyeringai tipis, "Pilih satu dari para tahanan. Yang paling setia. Atau kalau perlu, tangkap lagi satu dari luar. Jadikan mereka kelinci percobaan melawan para mutan, lalu kirim melawan Lynx. Kita akan uji kekuatan ciptaan kita. Lihat apakah manusia biasa, jika diberi kekuatan kita, bisa mengimbangi monster dari dunia lain itu."

"Siap, Komandan." Kanaya menunduk ringan. Matanya bersinar penuh semangat, seolah sudah membayangkan kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan Lynx, sosok pemuda yang bisa membantunya melepaskan diri dari cengkraman komandan Vex.

Vex tersenyum bengis, lalu kembali menatap layar.

"Ini baru permulaan. Dunia mereka akan hancur... dengan tangan kita."

